free page hit counter

Kendalikan Nafsu untuk Menyayangi Dirimu

Semua orang pasti punya dengan yang Namanya hawa nafsu. Tapi, tidak semua orang itu mampu untuk mengendalikannya. Hawa nafsu ini selalu menuntut diri kita untuk terus memenuhinya. Bahkan, Imam Al Busiri dalam kitab Burdah mengibaratkan nafsu ini itu bagaikan anak kecil.

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Artinya: “Nafsu ibarat anak kecil yang masih menyusu (minum asi) apabila tidak dilatih (sapih) maka hingga dewasa pun akan tetap seperti anak kecil yang masih menyusu”

Melatih anak kecil untuk berhenti menyusu pasti sangat berat. Tidak sedikit dari mereka selalu menangis waktu seorang ibu menyapihnya. Begitulah kita, pasti sangat sulit untuk melawan nafsu kita. Tapi, kalau kita ada tekat dengan berusaha yang kuat untuk terus mencoba pasti bisa mengalahkannya.

Nafsu sendiri terdapat beragam macamnya. Di dalam Al-Qur’an, setidaknya terdapat 3 pembagian mengenai nafsu. Di antaranya:

1. Nafsu Amarah

    Di dalam Al-Quran surah Yusuf ayat 53 Allah SWT berfirman,

    وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Artinya: “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yusuf : 53)

    Nafsu Amarah ini adalah nafsu yang selalu mengajak seseorang untuk mengerjakan perbuatan negatif. Hal ini dominan menguasai diri seseorang yang akhirnya merusak diri orang itu sendiri. Tidak hanya dirinya sendiri, bahkan lingkungannya pun nantinya akan menjadi imbas dari nafsu negatifnya. Contohnya seperti marah, iri, dan sifat tercela lainnya.

    2. Nafsu Lawamah

    Nafsu lawamah ini lebih cenderung merusak diri seseorang sendiri nantinya. Hal ini seperti halnya penyesalan, minder, putus asa, kekhawatiran, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, dan menyalahkan diri sendiri. Lebih sederhananya yang dimaksud nafsu lawamah ini adalah jiwa yang terbelenggu dalam kubangan emosi yang memuncak. Jiwa yang seperti ini sangat sulit untuk melakukan sabar, syukur, mati rasa terhadap realita, dan lupa akan qodo dan qadarnya Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman,

    وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

    Artinya: “Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri),” (QS. Al-Qiyamah: 2).

    3. Nafsu Mutmainnah

    Nahsu mutmainnah adalah nafsu yang diridhoi oleh Allah SWT. Nafsu ini berbeda dengan nafsu-nafsu yang sebelumnya. Nafsu mutmainnah telah ikhlas menerima semua ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Nafsu ini tidak membedakan antara kebahagiaan dan penderitaan, tidak membedakan masalah dan kesuksesan. Menurutnya, segala hal yang terjadi adalah cara Allah mendekati hamba-Nya, baik dengan suka maupun tetesan air mata.

    Allah menciptakan manusia dengan komponen perangkat tubuh fisik, akal pikiran, dan dimensi mental. Apabila salah satu dari anggota ini tersakiti, pasti anggota yang lain pun akan ikut merasakannya. Selain terstruktur dari ketiga komponen tersebut, seorang manusia juga terdapat segumpal darah yang sangat berpengaruh bagi perilaku sehari-harinya. Jika ia baik, maka akan baik pula seluruh perilakunya. Sebaliknya, jika ia buruk pasti akan buruk pula perilakunya. Bagian itu adalah hati, tempat dimana dimensi mental bekerja.

    Oleh karena itu, kita ini perlu menjaga diri kita baik dari sisi dhohir maupun batin. Kita harus mengasihi diri kita dengan cara tidak memenuhi semua keinginan nafsu jahat kita. Sebab, apabila kita terus-terusan memenuhinya nanti yang terugikan hanyalah diri kita sendiri.

    Oleh: Muhammad Sholihul Huda, PP Mansajul Ulum, Pati.

    Anda mungkin juga suka.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *